Jakarta –

Ketangguhan Perahu Penolong yang dibuat dari dana desa Binalu, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara tak lepas dari tangan dingin Niko Demus Inggar.
Dari hasil pemikiran dan keterampilannya dia menciptakan 5 perahu penolong bermesin yang mampu mendongkrak perekonomian nelayan miskin.

Dengan harga Rp 15 juta per kapal di luar mesin, Niko dipercaya oleh Kepala Desa Binalu, Mochtar Panauhe untuk membuat perahu dalam 3 minggu per unit.

“Mereka sudah tahu saya buat perahu makanya mereka pesan. Enggak sampai 2 bulan perakitan cepat cuma kayunya saja harus dijemur dulu baru dirakit,” ujar Niko kepada detik.com di bengkel kerjanya, Siau, Rabu (14/8/2019).

Saat Pembuat Perahu Siau, Andalkan Bahan Tahan Lama dari Filipina
Foto: Mustiana Lestari

Di Siau bahkan di Kabupaten Sitaro, Niko memang sudah lama dipercaya untuk membuat perahu yang tahan lama dan beda dari pembuat perahu biasa. Sebabnya, Niko menguji coba sendiri perahu buatannya serta memakai barang-barang impor yang dia beli sendiri sampai menyeberang pulau.

“Saya membuat perahu sejak tahun 93, cuma dari ide. Dulu kan perahu dibuat dari pohon besar yang digali tapi prosesnya cukup lama dan membutuhkan waktu dan biaya besar jadi timbul ide buat ini,” cerita pria yang sudah bercucu ini.

Lalu, Niko pun yang lulusan STM ini nekat mencoba membuat perahu meski dia tak punya latar belakang pembuat perahu. Produk yang dia buat pun diperlihatkan kekuatannya kepada para nelayan.

“Dari situ banyak yang pesan-pesan. Awalnya memang begitu semacam promosi kalau nggak gitu siapa yang mau percaya? Sekarang banyak yang ikut buat tapi meniru-meniru saja tapi kualitas beda. Makannya dari 94 itu berbondong-bondong pesan ke saya karena kualitas dan tahan lama bukan cuma asal-asal bikin,” tuturnya panjang lebar.

Apa rahasianya? Niko ternyata mengandalkan bahan baku dari Filipina. Bukan cuma kayu, melainkan juga cat hingga paku. Selain itu, tentu saja teknik perakitannya.

“Bahan dari kayu tripleks dari Filipina beli di Tahuna cuma Filipina yang punya kualitas bagus. Ada orang Filipina yang kirim ke Tahuna. Yang Indonesia punya langsung rusak kalau kena air. Kayu, paku tembaga, dan cat dari Filipina. Lebih mahal tapi dia penggunaan lama. Ini bisa sampai 10 tahun,” tandasnya yang memang letak bengkelnya dekat perbatasan Filipina-RI.

Sepak terjangnya selama puluhan tahun itu, membuahkan hasil. Kini Niko sudah bisa membeli kebun pala dan kendaraan bermotor. Namun mirisnya, harta yang dia dapat kerap digadai untuk modal kapal. Sebab setiap pesanan yang dia terima tak ada uang muka dan baru akan dibayar setelah kapal jadi.

“Inisiatif sendiri cari modal pinjam sana sini. Ada kalanya oto jadi jaminan. Nanti dari keuntungan itu digadai ulang cari modal. Kendalanya cuma modal karena mereka terima jadi. Kecuali ada kerja sama. Semacam buat pajeko saja bisa sampai Rp 500 juta berat sekali cari modal,” tuturnya sedih.

Oleh karena itu, dia berharap seperti perahu penolong ada juga modal penolong untuknya meminjam uang untuk pembuatan kapal karena diakuinya pesanan menumpuk namun modal tak ada. Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT klik di sini.

(mul/mpr)